Pemerintah Malaysia akan menurunkan tarif pajak penghasilan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah sebagai bagian dari Anggaran 2027 yang diumumkan Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada Jumat (9/10/2026).
Kebijakan tersebut mencakup penurunan tarif pajak bagi individu dengan penghasilan kena pajak 70.000-100.000 ringgit (sekitar Rp 307 juta hingga Rp 438 juta) menjadi 18 persen.
Sementara itu, individu dengan penghasilan kena pajak 100.000-150.000 ringgit (sekitar Rp 438 juta hingga Rp 657 juta) akan dikenai tarif pajak 24 persen. Pemerintah juga akan menaikkan batas keringanan pajak penghasilan individu dari 9.000 ringgit (sekitar Rp 39 juta) menjadi 12.000 ringgit (sekitar Rp 52 juta). Menurut Anwar, perubahan batas keringanan pajak tersebut merupakan yang pertama sejak 2010.
Langkah ini diambil untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup, terutama kelompok berpenghasilan menengah yang disebut pemerintah sebagai M40. “Pemerintah mendengar kekhawatiran kelompok berpenghasilan menengah (M40), yang telah bertahan dengan sabar meskipun juga terhimpit biaya hidup,” kata Anwar, yang dikutip CNA.
Keringanan pajak diperluas
Selain mengubah tarif pajak penghasilan, pemerintah Malaysia memperluas jenis pengeluaran yang dapat memperoleh keringanan pajak. Keringanan pajak untuk biaya medis akan diperluas agar mencakup layanan perawatan setelah melahirkan. Sementara itu, keringanan pajak untuk perawatan orangtua dan kakek-nenek akan mencakup seluruh biaya pengasuhan, tidak lagi terbatas pada biaya kesehatan. Kebijakan tersebut diumumkan dalam Anggaran 2027 senilai 459,8 miliar ringgit atau Rp 2 kuadriliun. Nilai anggaran itu meningkat 3,6 persen dibandingkan anggaran 2026 yang telah direvisi menjadi 444,1 miliar ringgit (Rp 1,9 kuadriliun).
Melalui anggaran tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendukung pertumbuhan usaha kecil di tengah tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak global.
Pertumbuhan ekonomi Malaysia diproyeksikan tetap kuat
Dalam laporan prospek fiskal dan ekonomi yang dirilis bersamaan dengan anggaran, pemerintah memperkirakan ekonomi Malaysia tumbuh 4,2-5,2 persen pada 2027. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dinaikkan menjadi 4,8-5,3 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4-5 persen. Ekonomi Malaysia tumbuh 5,7 persen pada semester pertama 2026.
Meski demikian, inflasi utama pada 2027 diperkirakan berada di kisaran 1,8-2,8 persen, naik dari estimasi revisi 2026 sebesar 1,5-2,5 persen. Pemerintah mengaitkan perkiraan tersebut dengan dampak lanjutan kenaikan biaya energi, pangan, dan input lainnya.
Di sisi fiskal, pemerintah memperkirakan defisit anggaran turun menjadi 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2027, setelah target defisit 2026 direvisi naik menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 3,5 persen.
Sumber: kompas.com
Kebijakan tersebut mencakup penurunan tarif pajak bagi individu dengan penghasilan kena pajak 70.000-100.000 ringgit (sekitar Rp 307 juta hingga Rp 438 juta) menjadi 18 persen.
Sementara itu, individu dengan penghasilan kena pajak 100.000-150.000 ringgit (sekitar Rp 438 juta hingga Rp 657 juta) akan dikenai tarif pajak 24 persen. Pemerintah juga akan menaikkan batas keringanan pajak penghasilan individu dari 9.000 ringgit (sekitar Rp 39 juta) menjadi 12.000 ringgit (sekitar Rp 52 juta). Menurut Anwar, perubahan batas keringanan pajak tersebut merupakan yang pertama sejak 2010.
Langkah ini diambil untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup, terutama kelompok berpenghasilan menengah yang disebut pemerintah sebagai M40. “Pemerintah mendengar kekhawatiran kelompok berpenghasilan menengah (M40), yang telah bertahan dengan sabar meskipun juga terhimpit biaya hidup,” kata Anwar, yang dikutip CNA.
Keringanan pajak diperluas
Selain mengubah tarif pajak penghasilan, pemerintah Malaysia memperluas jenis pengeluaran yang dapat memperoleh keringanan pajak. Keringanan pajak untuk biaya medis akan diperluas agar mencakup layanan perawatan setelah melahirkan. Sementara itu, keringanan pajak untuk perawatan orangtua dan kakek-nenek akan mencakup seluruh biaya pengasuhan, tidak lagi terbatas pada biaya kesehatan. Kebijakan tersebut diumumkan dalam Anggaran 2027 senilai 459,8 miliar ringgit atau Rp 2 kuadriliun. Nilai anggaran itu meningkat 3,6 persen dibandingkan anggaran 2026 yang telah direvisi menjadi 444,1 miliar ringgit (Rp 1,9 kuadriliun).
Melalui anggaran tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendukung pertumbuhan usaha kecil di tengah tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak global.
Pertumbuhan ekonomi Malaysia diproyeksikan tetap kuat
Dalam laporan prospek fiskal dan ekonomi yang dirilis bersamaan dengan anggaran, pemerintah memperkirakan ekonomi Malaysia tumbuh 4,2-5,2 persen pada 2027. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dinaikkan menjadi 4,8-5,3 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4-5 persen. Ekonomi Malaysia tumbuh 5,7 persen pada semester pertama 2026.
Meski demikian, inflasi utama pada 2027 diperkirakan berada di kisaran 1,8-2,8 persen, naik dari estimasi revisi 2026 sebesar 1,5-2,5 persen. Pemerintah mengaitkan perkiraan tersebut dengan dampak lanjutan kenaikan biaya energi, pangan, dan input lainnya.
Di sisi fiskal, pemerintah memperkirakan defisit anggaran turun menjadi 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2027, setelah target defisit 2026 direvisi naik menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 3,5 persen.
Sumber: kompas.com



