Monday, August 23, 2010

Ditjen Pajak fokus ke industri pengolahan

JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak akan fokus menyisir potensi penerimaan pajak dari sektor industri pengolahan pada tahun depan. Kasubdit Penerimaan Direktorat Kepatuhan, Potensi, dan Penerimaan Ditjen Pajak Anggrah Suryo mengatakan selama ini industri pengolahan merupakan kontributor terbesar dari penerimaan pajak.

"Kami juga akan melihat indikator dari proyeksi PDB [produk domestik bruto] yang dikeluarkan oleh BPS [Badan Pusat Statistik]," katanya kepada Bisnis hari ini.

Dengan melihat proyeksi pertumbuhan dari BPS tersebut, jelasnya, Ditjen Pajak akan dengan mudah menentukan fokus sektor mana yang akan disisir pada tahun depan. Indikatornya kan kelihatan semua di proyeksi BPS, sektor-sektor apa saja yang tumbuhnya bagus akan kelihatan di sana. Itu yang akan kita sisir," jelasnya.

Merujuk data Ditjen Pajak per Juni 2010, kontribusi penerimana pajak terbesar disumbang oleh sektor industri pengolahan yang realisasi penerimaannya mencapai Rp95,8 triliun. Posisi kedua dan ketiga disumbang masing-masing oleh sektor perdagangan besar, eceran, reparasi, dan keperluan rumbah tangga sebesar Rp39,8 trilun dan sektor perantara keuangan sebesar Rp29,5 triliun.

Posisi keempat dan kelima disumbang oleh sektor transportasi pergudangan dan komunikasi yang realisasinya sebesar Rp16 triliun serta sektor pertambangan dan penggalian dengan realisasi sebesar Rp15,8 triliun. Adapun sektor pertanian, perburuhan, dan kehutanan, realisasi penerimaan pajaknya mengalami penurunan dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu dari Rp7,6 triliun menjadi Rp6,7 triliun.

Terkait dengan target penerimaan pajak dalam RUU APBN 2011, Anggrah menjelaskan Ditjen Pajak akan mengintensifkan penerimaan dari PPh nonmigas dan PPN PPnBM terutama dalam rangka menutup hilangnya penerimaan dari BPHTB yang per 1 Januari 2011 kewenangan pemungutannya dilimpahkan ke pemerintah daerah.

"Kami tutup lubang [penerimaan] nya dari PPh nonmigas dan PPN PPnBM karena dua jenis pajak ini yang bisa kita genjot," ujarnya. Dalam RUU APBN 2011, target penerimaan pajak nonmigas atau target penerimaan pajak yang menjadi beban Ditjen Pajak pada 2011 dipatok sebesar Rp701,52 triliun atau naik sebesar Rp95,5 triliun dari target dalam APBNP 2010 sebesar Rp606,1 triliun.

Target penerimaan pajak tersebut sudah menghilangkan komponen penerimaan dari Bea atas Hak Perolehan Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang berdasarkan UU No. 28/2009 tentang PDRD pemungutannya dialihkan ke pemerintah daerah per Januari 2011.

Apabila dirinci, komponen penerimaan pajak terbesar berasal dari PPh nonmigas sebesar Rp360,31 triliun atau naik Rp53,48 triliun dari target APBNP 2010 Rp306,83 triliun disusul penerimaan pajak dari PPN dan PPnBM Rp309,33 triliun atau naik Rp46,37 triliun dari target APBNP 2010 Rp262,96 triliun.

Sementara itu, target penerimaan pajak dari pajak bumi dan bangunan (PBB) ditetapkan sebesar Rp27,67 triliun atau naik Rp2,3 triliun dari target APBNP 2010 Rp25,33 triliun. Khusus PBB perkotaan dan perdesaan, mulai Januari 2014 pemungutannya juga akan dialihkan ke pemerintah daerah.

Adapun target penerimaan dari pajak lainnya yang meliputi bea materai, pajak tidak langsung lainnya, dan bunga penagihan pajak ditetapkan sebesar Rp4,2 triliun atau naik Rp360 miliar dari target APBNP 2010 Rp3,84 triliun. (luz)

Sumber: Bisnis.com

No comments:

Post a Comment